Uang Kembalian adalah HAK Konsumen!

Illustrasi (dari Sindopos)

“Maaf Mas, kami tidak ada uang receh jadi kembaliannya permen.”

Apakah Anda sering mendengar kalimat tersebut ketika Anda bertransaksi? Entah di supermarket atau restoran. Keki banget gak sih rasanya? Mungkin jika kembalian Anda nominal 100 atau 200 perak, ya sudahlah, terkadang kita juga malas bawa-bawa uang receh di dompet kita. Karena bagi sebagian orang, uang receh itu rempong katanya. Tapi ya mungkin sudah sering dibahas bahwa yang namanya perintilan-perintilan receh itu atau uang kembalian, sudah menjadi hak kita sebagai konsumen. Kita sebagai konsumen sudah menunaikan kewajiban yaitu membayar dengan alat tukar yang sah (baca: duit, uang, acis!) bukan daun apalagi cinta (halah!). Jadi sudah merupakan hak kita untuk mendapatkan uang kembalian. Kalau dipikir-pikir, jika toko retail memiliki 1.000 pengunjung setiap hari, hitung saja uang 100 perak itu. Jadilah Rp100,000. Kemudian dikali sebulan. Nominal yang cukup fantastis apalagi jika dikalikan setahun. 100 perak itu sungguh bernilai! Uang satu milyar tidak akan jadi satu milyar jika dikurangi 100 perak!

Nah, ada juga toko yang menggantikan uang kembalian dengan permen. Konsumen seolah-olah dipaksa untuk “membeli” barang yang tidak ingin dibelinya. Ini juga keliru. Tapi ya terserah anda kalau memang permen lebih baik daripada tidak sama sekali. Saya hanya beropini🙂

Ada lagi yang heboh, pada tanggal 12 Agustus 2013, saya bertransaksi sebesar Rp34,100 di sebuah restoran cepat saji. Saya bayar dengan menggunakan uang Rp100,000.

Kasir (K): Maaf kakak, tidak ada uang kecil?

Saya (S): Sebentar ya mbak. (mengeluarkan uang Rp35,000)

K: Maaf kakak, uang kembaliannya kurang Rp900, tidak apa-apa?

S: (dalam hati: WTF?!) Sebentar mbak….. (mengeluarkan uang Rp100) Nih, mbak, biar kembaliannya genap Rp1000

K: (berusaha mencari uang Rp1000 di dalam laci mesin kas, kemudian…) Maaf, kakak, Rp1000-annya juga sudah habis, tidak ada.

S: (dalam hati: WTF?! WTF?!) Mbak, saya sudah berbaik hati loh mbak mencarikan solusi, mulai menyediakan uang yang lebih kecil hingga menggenapkan kembalian, terus gak ada juga.

K: Iya, kak. Maaf. Kami lagi tidak stok uang receh.

Saya jujur saja, rada aneh pernyataannya. Masa iya gerai fastfood sebesar *sensor* tidak memiliki stok uang receh? Apalagi pasti banyak transaksi yang terjadi dengan pelanggan lain, kans mendapatkan uang pecahan kecil sangatlah tinggi. Kalaupun tidak ada, sebelum kasir dibuka seharusnya pihak manajemen menyediakan uang pecahan kecil untuk kembalian, karena sekali lagi, kembalian adalah hak konsumen.

Saya pun tidak mau beranjak dari meja kasir sampai saya mendapatkan hak saya Rp1000 rupiah. Jumlah yang kecil memang, tapi bagi saya ini penting agar mereka juga berpikir ke depan bahwa sekali lagi uang kembalian adalah hak konsumen, konsumen sudah menunaikan kewajiban yaitu membeli barang dengan alat tukar yang sah! 

Setelah 5 menit saya berdiam diri, akhirnya kembalian Rp1000 perak saya datang. Si mbak kasir langsung cemberut gitu. Ya sudah saya cemberutin balik.

Tapi ya itu tadi, kembali lagi ke pikiran anda masing-masing. Jika 100-200 perak atau bahkan 900 perak (dalam kasus saya) tidak terlalu berharga bagi anda silahkan. Yang jelas, saya hanya memberi opini bahwa, setiap konsumen berhak mendapatkan uang kembalian 🙂

1 Comment

  1. ya, itulah Indonesia … masih mending kalau hal tersebut terjadi di mall atau tempat jajanan tapi coba perhatikan di SPBU. uang kembalian yang menjadi hak konsumen biasanya lebih besar lagi, kalau di tempat jajanan kisarannya di bawah Rp. 500,00 tapi kalau di SPBU kisarannya di bawah Rp. 1.000,00 dan ‘kami’ (konsumen) bukan tidak tahu bahwa itu HAK kita dan KEWAJIBAN kita untuk memintanya/menagihnya apabila tidak diberikan tetapi seringkali hal itu kalah oleh pemikiran ‘tidak mau riweuh/cape bersilang kata’ dengan si pelayan apalagi kalau di belakang kita terdapat orang/kendaraan yang sedang antri.

    sebetulnya hal tersebut tidak menjadi masalah apabila mereka (si penjual barang) juga mau menerima apabila kita membayar sebagian harga belanjaan dengan permen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s