27 Hari di Sulawesi Selatan (Bagian 1)

582366_10151387659371101_507117681_n

Pelajaran paling berharga adalah pengalaman. Bukan yang lain.

Genap sudah dua tahun saya bekerja dengan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), dimana kurang lebih sudah lebih dari 50 training dan lebih dari 700 peserta yang telah dilatih perangkat lunak open source mulai dari metode pengumpulan data dan berbagi data spasial menggunakan OpenStreetMap, hingga pengolahan dan analisis menggunakan QGIS serta plugin untuk memperhitungkan dampak bencana seperti InaSAFE. Pengetahuan yang sama sekali tidak ada (baca: NOL BESAR) dalam otak saya 2 tahun yang lalu, dan tak terbayangkan banyaknya pelajaran yang saya dapat selama tergabung dalam HOT.

Anyway, kali ini saya mendapatkan mandat untuk membantu rekan-rekan ACCESS (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme) Sulawesi Selatan dalam rangka membuat peta sosial. Dan betapa terkejutnya bukan main, karena kalau biasanya dalam satu workshop itu saya selalu didampingi oleh satu tim, kali ini saya harus sendirian, sekali lagi SENDIRIAN. Berbagai pengalaman mulai dari yang seru, aneh, hingga horror pun ada.

Perjalanan saya dimulai pada tanggal 9 Juni 2013, dimana saat itu saya naik pesawat pada pagi hari (untungnya tidak pagi buta sekali). Saya paling senang duduk dekat jendela dan di emergency seat karena ruang kaki ekstra yang memberikan saya kenyamanan lebih😀 Setibanya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, seperti biasa dan seperti yang sudah-sudah kejadian, bahwa orang-orang yang menawarkan jasa transportasi bandara (baca: taksi) sangatlah agresif. Pertama kali saya menginjakan kaki sendirian di bandara ini, sampai-sampai saya pernah dikejar-kejar bahkan diikutin sama yang menawarkan taksi. Kemudian pada saat datang bersama tim, pernah juga ada mbak-mbak yang saking semangat dan agresifnya hingga menaikan kaki-nya ke meja dan melambai-lambaikan brosur tarif di tangannya kepada saya dan tim. Suasana begitu riuh dan semarak setiap kali ada orang yang keluar dari pintu kedatangan. Lucu memang, tapi ya namanya orang bekerja cari rejeki, harus semangat seperti itu, jangan sampai seperti supir taksi di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang jual mahal. Niat mau naik taksi tapi supir taksinya malah tidak mau dan menyarankan saya naik TransJogja😦

First stop, Makassar, salah satu kota besar di Indonesia ini memiliki banyak keunikan tersendiri. Khususnya untuk kuliner-nya yang beragam dan bikin kangen (konro-nya itu loh). Pokoknya salah besar kalau kamu mampir ke Makassar saat bulan puasa apalagi sedang diet🙂 Ini sudah kelima kalinya saya menginjakan kaki di Makassar, hanya beberapa objek wisata saja yang pernah saya kunjungi seperti Fort Rotterdam misalnya. Kebanyakan workshop, kulineran, dan jalan-jalan cari oleh-oleh😛

582366_10151387659371101_507117681_n
Bersama tim HOT ketika di Makassar bulan Januari 2013

Workshop di Makassar ini rencananya akan berjalan selama 6 hari mulai tanggal 10 hingga 15 Juni 2013. Pesertanya berasal dari mitra ACCESS Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa. Dengan estimasi jumlah peserta adalah 26 orang. Sekali lagi 26 orang. Malam sebelum training saya benar-benar tak berdaya, deg-degan menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi saat memfasilitasi 26 orang. Saya benar-benar kroscek kembali berbagai materi dan alur strategi hingga lewat tengah malam. Keesokan harinya, benar saja, bukan 26 orang melainkan 36 orang yang berdatangan. Saya kewalahan. Rasanya mau pesan tiket pulang saja. Tapi beruntung, keadaan masih dapat terkendali berkat strategi mengendalikan stress yang biasa saya lakukan setiap kali saya menghadapi tekanan. Contohnya:

1. Makan, makan, dan makan. Kalau bisa yang enak, mahal pun tak apa.

2. Pijak refleksi.

3. Jalan-jalan ngalor ngidul sendirian.

4. Mandi air hangat + minum teh hangat sebelum tidur.

Memanjakan diri itu penting loh biar tidak stress dan biar suasana hati pun tetap sabar dan terkendali. Selesai hari pertama, malamnya saya langsung melipir ke restoran steak terdekat di Jalan Boulevard (beruntung lokasi workshopnya strategis). Kemudian jalan-jalan malam menyendiri menikmati suasana malam kota Makassar. Pokoknya setiap kali saya stress, saya selalu memanjakan diri saya, sampai kadang tidak perduli berapa uang yang harus saya keluarkan. Uang bisa dicari, yang penting saya tetapi happy🙂

Hari kedua dan seterusnya hingga hari terakhir, suasana aman dan terkendali. Saya masih tidak percaya bahwa saya bisa memfasilitasi sekitar hampir 30 orang peserta tetap. Saya sangat bersyukur peserta dan panitia lokal sangat kooperatif dalam workshop ini.

1006170_10151696691251101_558903666_n
Di sebelah lokasi workshop, ada tempat seperti ini. Sempat tersirat… apakah mungkin saya bisa mendapatkan kebahagiaan di tempat ini?😛
999252_10151696691491101_2036973845_n
“Dengan GPS, saya bisa mendeteksi kemana pun pacar saya pergi. Ketahuan deh kalau selingkuh”
Bersama peserta dari Takalar & Gowa
Bersama peserta dari Takalar & Gowa. Hayo saya dimana ya?😀

Setelah di Makassar, minggu kedua adalah workshop di Kabupaten Bantaeng. Namun, sebelumnya saya bertolak dahulu ke Jeneponto. Tanggal 16 Juni 2013, saya pun bertolak ke Kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan Coto Kuda-nya….

Bersambung… ke sini!

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s