[Review] The Clinic (2010)

“Went to the Sky Dragon, came back, fiancée’s gone.”

Terinspirasi dari kisah nyata di tahun 1979, yang katanya selang 6 tahun saja sebelum ditemukannya teknologi tes DNA. “The Clinic” akan membawa Anda semua ke dalam alur cerita yang naik turun bak roller coaster.

Cameron (Andy Withfield) dan tunangannya yang sedang hamil tua Beth (Tabrett Bethell) sedang dalam perjalanan menyusuri kawasan country Australia yang gersang dan hening. Mereka memutuskan untuk singgah di kota kecil Montgomery dan menginap di sebuah motel. Kejanggalan kecil mulai terjadi saat pemilik motel melakukan “teasing” kepada Cameron. Namun, puncaknya terjadi saat malam hari ketika Beth tiba-tiba menghilang begitu saja. Sang suami sangat yakin bahwa ini ulah pemilik motel yang menyimpan suatu rahasia.

Di tempat lain, Beth terbangun dalam keadaan perutnya yang baru saja dijahit. Suasana berubah menjadi penuh kesedihan dan dilema seorang ibu yang baru kehilangan anak pertamanya. Namun, kemudian alur kembali berubah menjadi tanda tanya besar ketika Beth bertemu dengan 3 orang wanita yang bernasib sama dengannya. Tanda tanya semakin besar ketika diketahui bahwa mereka seperti ada di dalam sebuah fasilitas, mereka yakin bayi mereka disimpan di suatu tempat. Akhirnya mereka memutuskan tidak akan meinggalkan tempat tersebut sebelum menemukan bayi mereka. Namun, usaha mereka tidak semudah yang dibayangkan. Satu persatu mereka dibantai. Maksud pembantaian pun belum jelas. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Fasilitas apakah itu? Lalu bagaimana usaha Cameron menemukan istrinya yang terjebak di fasilitas tersebut? Dan mampukah Beth dan ketiga orang survivor lainnya menemukan bayi mereka?

Penuh tanda tanya namun untungnya storyline tidak bertele-tele. Semuanya dibeberkan di pertengahan alur dan maksudnya akan semakin jelas di penghujung durasi. Satu hal yang cukup menarik di film ini ada pada permainan emosi. Emosi penonton diaduk-aduk bak adonan. Bagaimana tidak, lagi tegang-tegangnya tiba-tiba mendadak mellow atau sebaliknya. Atau suasana yang tadinya serius tiba-tiba berubah menjadi mellow. Mungkin karena tema yang diambil film ini cukup mempengaruhi perasaan penonton terutama calon ibu🙂. Kekurangan film ini mungkin ada pada karakternya yang kurang ditonjolkan terutama karakter Cameron, lebih cenderung seperti figuran. Munculnya hanya sesaat.

Sinematografi saya rasa standar. Tipikal film Australia, lebih dominan range shot ketimbang close-up. Special effect yang digunakan juga simpel. Sadisme tidak terlalu ditonjolkan tetapi cukup merinding ketika melihat perut terjahit seperti dalam poster filmnya. Untuk musik, cukup menarik dengan dentuman-dentuman ala film horror ditambah sayu-sayu dentingan piano.

Kesimpulannya, kalau anda suka film thriller dengan permainan emosi dan pesan moral, “The Clinic” boleh dijadikan santapan.

My Rating: 3/5
IMDb Rating: 5.4/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s