Buka, Tutup, Panjat, Jebolin, Las, Lalu Apalagi???

pengamanan barel

pengamanan barel

BOSAN! Itulah kata-kata pertama yang gw lontarkan mengenai kasus penutupan Pintu Barel (depan Fakultas Hukum) kampus UI, Depok sejak 31 Mei 2010 lalu (lihat juga: Cerita Foto : Penutupan Pintu Barel)

Sebenarnya inti dari masalah ini apa sih? Apa tujuan pihak UI menutup pintu Barel ini? Oh iya! Mereka bilang untuk antisipasi terjadinya kecelakaan sewaktu menyebrang rel KRL. Tetapi apakah benar? Apakah ada maksud terselubung dalam benak bapak rektor? Apakah benar ada udang dibalik bakwan? Habis kesannya kok ‘ngotot’ sekali ya?

Warga dan mahasiswa meminta pintu barel dibuka. Karena akses dari barel menuju FH relatif sangat singkat. Oleh karena itulah warung makan dan kosan serta fotokopi-an yang menunjang kebutuhan mahasiswa marak di wilayah ini. Namun karena akses di-cut, mahasiswa ‘dipaksa’ untuk memutar ke kober dan menyebrang rel lewat stasiun UI ‘yang katanya’ relatif lebih aman.

Berbagai aksi dan tindakan oleh warga dan mahasiswa mulai dilakukan. Pernah pintu barel dicopot sehingga warga dan mahasiswa bebas lalu lalang di pintu masuk. Disediakan juga penjaga lintasan rel KRL sebanyak 2 orang untuk memperingati warga dan mahasiswa yang akan menyebrang rel sebagai jawaban atau lebih tepatnya solusi dari tujuan penutupan pintu barel. Hasilnya? Aksi tersebut digagalkan dengan pengelasan kembali pintu barel.

Beberapa hari ke depan hingga saat ini, warga dan mahasiswa masih ‘memaksa’ melewati pintu ini dengan memanjat. Hell yeah! Agak memaksa tapi inilah realita. Demi menghemat waktu mereka rela memanjat. Perlu diketahui pada prinsipnya dalam penelitian transportasi pun jarak tidak dijadikan sebagai variabel tapi waktu tempuh. Setiap manusia pada dasarnya ingin mencapai tujuan (destination) dari asalnya (origins) dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oleh karena itu tentu saja warga dan mahasiswa masih banyak yang ingin memperjuangkan pintu barel dibuka.

Usaha lainnya adalah menjebol paksa pintu barel sehingga terciptalah lubang yang cukup untuk 1 orang dewasa ‘ngolong’ melewati lubang tersebut. Namun, baru bertahan beberapa jam lubang tersebut langsung dilas kembali bahkan dijaga 1 kompi polisi. Is it too hiperbolic?

Lalu, aksi-aksi apalagi yang akan dilakukan oleh warga dan mahasiswa? Apakah hati rektor akan luluh? Sampai kapan masalah ini selesai? Buka, tutup, buka, tutup, buka, tutup lagi…..siapa yang tidak bosan?

Well, sebenarnya bagus juga ada niatan dari pihak UI untuk melindungi warga dan mahasiswanya agar terhindar dari ‘ciuman’ KRL (apalagi yang ekspress). Namun, coba dipikirkan lagi, apakah tidak ada solusi yang efektif? Pihak UI harusnya mempertimbangkan dan menilai kembali dampak penutupan pintu barel. Apakah tidak ada win-win solution dari pihak UI? Atau pernahkah pihak UI menjalin kerjasama dengan PT.KCJ untuk membuat palang dengan sensor yang akan menutup secara otomatis jika ada KRL lewat? Tidak ada yang tidak mungkin untuk mendapatkan win-win solution. Hanya saja, mungkin pihak UI terlalu sibuk menyebar pencitraan positifnya saja (perpustakaan UI dan gedung-gedung baru lainnya). Semoga masalah ini cepat selesai.

Posted with WordPress for BlackBerry.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s