Biedermann dan Tukang Bakar

Hari ini gw baru aja pulang dari Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki. Abis nonton pertunjukan teater UI yang berjudul Biedermann dan Tukang Bakar. Sebelum gw masuk membahas pertunjukannya gw mau curhat dulu musibah pas gw sampe di Taman Ismail Marzuki.

Kurang lebih pukul 18.30 gw sampai dengan rombongan dari UI pake bikun. Setelah shalat, gw pikir pertunjukannya bakal lama karena temen gw yang tampil mengatakan pertunjukannya akan selesai di atas jam 10 malam. Yaudah gw cari makan dulu. Kebetulan ada food court gitu di deket 21-nya. Gw mikir makanan situ mahal semua. Apalagi Jakarta, yaudah gw ambil makanan jenis prasmanan aja (‘ala Warteg). Disitu gw cuma makan nasi putih, kikil, dan telur balado+air putih kena charge RP18.000,-!!!!! Anjriiitt! Mahal giiilllaaaaa!! Segitu gw gak pake ayam! Udah mana nasinya sedikit pula! Tapi apa dikata, makanan sudah masuk perut. Ya sudah gw relakan..<– walaupun sebenarnya agak berat untuk merelakannya~

Okay back to performance. Menurut gw dari sisi cerita, Biedermann dan Tukang Bakar ini sangatlah unik karena kita nggak menemukan mana tokoh protagonis dan antagonis. Sulit membedakannya.. Si Biedermann sendiri yang tadinya gw pikir protagonis di awal cerita malah kok cenderung antagonis akibat cara dia menyelesaikan masalahnya itu loh. Masa iya dia merangkul dua orang yang jelas-jelas jahat?

Mungkin pada belum ngerti yakk?? Okay deh, gw cerita sedikit alurnya. Jadi seorang bussinessman yang bernama Biedermann (diperankan oleh Haris Setia Bangsawan) sedang membaca koran yang isi beritanya kebakaran. Setiap hari isi dan pola beritanya mengenai kebakaran. Merasa yakin ia tidak akan pernah terserap dalam kekuatan jahat, tiba-tiba dalam beberapa menit, tukang bakar pertama yang mengaku sebagai pedagang keliling bernama Schmitz (diperankan oleh Pradana Setya Kusuma) muncul. Ia melakukan serangkaian intimidasi dan juga memanipulasi otak si Biedermann sehingga Biedermann mengizinkan si Schmitz untuk tinggal di loteng rumahnya. Kemudian seiring dengan jalannya cerita, tukang bakar kedua yang bernama Eisenring (Hafidz Fuad) muncul. Mereka berdua mempunyai rencana jahat untuk membakar rumah-rumah penduduk. Bodohnya si Biedermann ini, ia termanipulasi oleh tingkah kedua tukang bakar tersebut sehingga bukannya mencegah malah membantu kedua tukang bakar tersebut untuk melancarkan aksinya.

Teror, intimidasi, moralitas tanpa moral, dan humor terus mewarnai alur cerita yang cukup panjang dan melelahkan (kurang lebih durasinya 3 jam~). Semua pemainnya total dan natural. Mereka juga melakukan improvisasi yang hebat ketika terdapat kal-hal yang tidak terduga. Iringan musiknya juga oke sih. Gw terhibur banget deh, puas 3 jam cekikikan saking kocaknya. Terutama aksi kedua tukang bakar tersebut.

Adegan yang paling gw inget terus adalah saat Biedermann sadar betapa bodoh dirnya meminjamkan korek api yang digunakan untuk aksi bakar-bakaran. Dan ending-nya juga oke. Overall, performancenya mantabh punya deh..

*Btw, 18 rebu gw..masih kepikiran nih -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s