KEBEBASAN PERS INDONESIA : SUDAHKAH BERTANGGUNG JAWAB?

Jika teman-teman mendengar kata kebebasan pers, kira-kira apa yang ada di benak teman-teman? Apakah berarti wartawan dapat meliput seluruh kejadian di seluruh dunia ini dengan seenak jidat? Atau wartawan dapat meliput seluruh kejadian di dunia ini dengan tanggung jawab? Pasti teman-teman lebih memilih jawaban yang kedua. Memang tidak bias dipungkiri lagi, dimana ada kebebasan pasti harus diimbangi dengan rasa tanggung jawab. Dalam dunia pers, berarti seorang jurnalis selain harus menulis berita yang dapat diklarifikasi kebenarannya, mereka juga harus menilai dari berbagai sudut dampak yang ditimbulkan jika berita tersebut dipublikasikan. Namun, sayangnya, jika dilihat dari sisi lain, dunia jurnalistik di Indonesia mengalami kemunduran. Seringkali kita mendengar berita-berita yang “tidak jelas” kebenarannya dan tentu saja menimbulkan dampak yang luar biasa, seperti isu ramalan Mama Lauren yang memberitahu bahwa akan ada kecelakaan yang memakan korban pada salah satu wahana permainan di Dunia Fantasi.
Print it, and be damned! Itulah salah satu prinsip kerja jurnalis menurut teori pers libertarian (Four Theories of the Press karangan F. Sibert, dkk.). Belakangan ini, prinsip inilah yang diterapkan oleh kebanyakan wartawan Indonesia. Kurang lebih artinya sama dengan “Yang penting beritakan dulu! Urusan lain belakangan!” . Oleh karena itulah, banyak isu-isu miring yang sering kita dengar dan menimbulkan dampak yang luar biasa di masyarakat. Isu-isu tersebut biasanya disebut dengan HOAX. Wartawan yang senang menulis berita semacam HOAX tidak hanya harus kita caci maki tetapi juga harus dihukum keras! Apakah wartawan termasuk “special class” dalam masyarakat di mana pantas menikmati segudang hak termasuk tak tersentuhkan dengan hukum? Tentu tidak! Ada batasan-batasan kebebasan yang harus diperhatikan oleh seluruh wartawan. Untuk apa ada Kode Etik Jurnalistik?
Keadaan pers di Indonesia saat ini kalau kita perhatikan hampir serupa dengan periode tidak lama setelah jatuhnya Orde Lama di awal tahun 1966. Kala itu, pers seakan tidak mengenal batasan apapun sehingga memberikan apa saja yang dinilainya pantas untuk diberitakan. Apalagi yang sangat menyedihkan adalah sikap mengentengkan aspek etika dan hukum dari wartawan. Banyak wartawan kita yang beranggapan jika ada pihak yang merasa diruikan oleh suatu pemberitaan, silahkan pergunakan hak jawab Anda. Begitu gampangnya delik pers diselesaikan. Padahal, siapa pun tahu bahwa pemuatan bantahan sama sekali tidak mengurangi rasa malu dan kerusakan martabat yang dialami korban (misalnya dalam kasus pencemaran nama baik).
Kita sebagai konsumen yang haus akan informasi juga harus dapat pintar memilah-milah informasi mana yang benar dan tidak ada unsur kebohongan di dalamnya. Jangan salah! Di Amerika misalnya, harian The New Republic mengaku pernah sesekali memuat berita rekayasa. Menurut pengakuan blak-blakan Stephen Glass (25 tahun), redaktur senior harian tersebut, dari 41 artikel yang ditulisnya, 27 adalah hasil rekayasa. Enam dari 27 tulisan tersebut sama sekali hasil imajinasi dalam dirinya. Kesimpulannya, wartawan bisa menulis berita bohong atau ngawur? Tentu saja! Cara klasik yang digunakan agar masyarakat seolah-olah percaya dengan berita bohong tersebut adalah dengan menggunakan kata-kata “Menurut sumber-sumber yang dipercaya” atau “Sumber yang hanya mau berbicara dengan syarat tanpa disebutkan identitasnya”.

4 Comments

  1. Media-media hari ini telah menjadi predator-predator yang dengan bangga memangsa informasi benar dengan bumbu kebebasan berekspresi, kebebasan berbicara dan kebebasan pers dengan begitu jahatnya.

    Mari bersatu di bawah operasi Jihad melawan hipokritisme media. Harus ada seseorang yang menggagasnya. Saatnya menggalang kekuatan melalui citizen journalism untuk melawan corporation journalism.

    Baca:

    http://primeidea.wordpress.com/2014/10/28/kebohongan-dan-manipulasi-media/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s