Geo-psychology : Pendekatan karakteristik berdasarkan analisis keruangan?

Pernah denger gak ilmu Geo-psychology? Secara langsung ilmu tersebut merupakan gabungan ilmu Geografi dan Psikologi. Loh?
Coba deh perhatikan kasus seperti phobia pada ruang sempit. Secara psikologis, orang tersebut mengalami ketakutan yang tidak wajar. Secara geografis, ruang sempit adalah hal yang ditakutinya.
Adalagi contoh seperti berikut. Bagaimana jika diri kamu terperangkap pada sebuah gua yang gelap gulita? Seberapa panik diri kamu? Dalam hal ini, tingkat stress dan kepanikan yang tinggi termasuk ke dalam ilmu psikologi sedangkan gua yang gelap termasuk ke dalam geografi.
Bahkan secara tidak sadar, kita sering mengaplikasikan Geo-Psychologi itu sendiri. Misal bagaimana kita bersikap di tempat umum atau ketika kita tahu bahwa kita tersesat di hutan tanpa membawa apa-apa. Intinya setiap kondisi di tempat tertentu dapat mempengaruhi pikiran kita. Nah, itulah yang disebut dengan Geo-Psychology.
Okay, sekarang apa sih kegunaannya mempelajari Geo-Psychology? Dalam mendesign sebuah tempat tinggal yang nyaman misalnya, Geo-Psychology dapat membantu menentukan ruang yang tepat dan dapat membuat seseorang nyaman. Apalagi jika didukung warna-warna cat yang pas dan posisi perabotan yang tepat.

About these ads

2 thoughts on “Geo-psychology : Pendekatan karakteristik berdasarkan analisis keruangan?

  1. just bump to this blog, thx for the info. its nice information and opinion. um, jikalau keberadaan geo-psikologi adalah analisis keberadaan kenyamana psikologi yang salah satu fungsinya adalah mengetahui dan membentuk tempat tinggal, kenapa tidak belajar arsitektur saja? tohbentuknya sama dan targetnya sama

    gimana gan jawabannya?

    • Iya saya jujur saya juga bingung. Kadang, ilmu juga bisa overlap. Tapi satu hal lagi mengenai geopsychology bukan hanya masalah tempat tinggal. Bisa juga dengan branding dari suatu tempat. Misalnya ketika mendengar kata Bali, pasti mikirnya pantai, tempat wisata, dll yang terkait dengan Bali. Jadi pada saat kita ke Bali, ekspektasi kita sudah siap sesuai “branding”-nya. Bisa juga branding dengan oleh-olehnya, budayanya, dll. Coba baca lebih lanjut –> Nevett and Nevett 1994, The Role of Region of Origin in Consumer Decision-Making and Choice–Koert van Ittersum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s